Senin, Maret 24, 2008

Tidak Semua Dokter itu Pintar! Heh??

Kata-kata itu sepertinya melekat erat di kepalaku. Seorang teman mengatakanya beberapa waktu yang lalu. Sampai suatu saat, sesuatu terjadi pada kaka. Sepulang perjalanannya dari rumah yang sedang direnonvasi di daerah Cicalengka. Kaka perempuan saya mengeluh badannya mengalami sedikit ngilu-ngilu. Di pagi hari sekitar jam 5, tiba-tiba badannya panas, kaki dan tangannya sakit tak bisa digerakkan. Sedikit saja kaki atau tangannya tersenggol maka akan terasa sakit. Kebetulan waktu itu saya berada dirumahnya, anaknya yang baru berusia 6 bulan terpaksa tak bisa dekat-dekat dengan ibunya. Saya yang belum berpengalaman menjadi seorang ibu, kini dituntut untuk bisa merawat anak itu sementara waktu. Sedangkan ayahnya harus tetap menjalankan tugasnya untuk mencari nafkah.

Sampai siang hari panasnya tak kunjung turun, dan untuk sekedar buang air kecilpun kaka merasa sangat kesulitan untuk berjalan. Ditambah lagi dengan mual-mual dan muntah. Melihat keadaan seperti itu saya merasa khawatir, saya kabari kaka ipar saya mengenai keadaannya. Dan akhirnya dia pulang cepat siang hari demi istrinya. Siang itu pula kami bawa kaka perempuanku ke RS. Karena belum berpengalaman, setelah bertanya-tanya ke tetangga, kaka iparku memutuskan untuk membawa kakaku ke RS di dekat pintu tol Cileunyi. Kesan pertama dari RS itu adalah sepertinya bagus, namanya saja AMC Hospital. Sepertinya kualitasnya bagus. Baru saja saya bergumam seperti itu, penilaianku suadah berubah hampir 180 derajat berlawanan. Kami berdua membopong kaka tuk masuk ke RS tersebut.

Di pintu masuk depan kulihat 2 orang security berdiri dekat Receptionist. Hah…???mengapa security itu diam saja melihat kami. Tak terpikirkankah olehnya untuk membantu kami dan mengambilkan kursi roda. Di Receptionist langsung kami diarahkan ke ruang UGD. Kamipun melewati security tadi dan kami kebingungan arahnya kemana karena tak dibimbing. Sungguh keterlaluan, bisa-bisanya security itu bersikap macam itu.

Akhirnya sampai di ruang UGD, dan dilakukan beberapa tes pemeriksaan seperti biasanya, darah pun diperiksa sampai akhirnya kakaku diberi Oksigen. Heh? Oksigen??kakakku tak mengalami kesulitan bernafas, tapi diberi oksigen? Adakah hubungannya?? Benarkah itu prosedur yang harus ditempuh pasien UGD?

Ternyata dokter UGD hanya ada satu orang, dan dia mesti mengobati yang lebih dulu datang. Sampai akhirnya kakakku diperiksa, tapi….kok sepertinya dia kurang profesional. Agh…mungkin karena dia masih tergolong muda untuk usia dokter. Diagnosa cukup tapi, mengapa saya sering berdiskusi dengan perawatnya dibanding dokternya? Owgh… dia ada tamu ternyata, tamu penjual obat-obatan. Bolehlah dia seperti itu, tapi…pantaskah seorang dokter UGD mengoleskan lipstik di bibirnya diruang tersebut???(hehehe…)

Karena kakakku mengeluh sakit di daerah bawah perut, akhirnya dokter itu menyarankan untuk menemui dokter kandungan, dan langsung kami minta dipertemukan dengan dokter kandungan di RS tersebut dengan pikiran sekalian saja meskipun bukan dokter langganan. Di ruang dokter kandungan, saya merasa ketakutan. Bagaimana tidak, selama pemeriksaan kakakku menjerit-jerit kesakitan, dan sepertinya kaka iparpun merasakan hal yang sama. Setelah itu dokter memutuskan bahwa kakaku harus dirawat, diagnosanya belum pasti, harus dilakukan beberap pemeriksaan dan tes lab kembali. Dokter bilang bahwa ada 3 kemungkinan, pertama infeksi rahim, hamil di kandungan, dan usus bintu. Wah gada yang bagus2nya.

Setelah masuk ruang prawat inap, kakaku dipertemukan dengan dokter dalam. Lagi-lagi aneh! Dokter itu tak mengatakan apa-apa mengenai penyakit kakakku. Dengan keadaan yang seperti itu terus menerus maka kakakku mendesak ingin pulang saja, dengan alasan kasihan anaknya nangis terus blum lagi suaminya akan pergi keluar kota. Sungguh menyebalkan, kami harus menunggu dokter datang sebelum pulang dan dokter itu datang sore hari. Padahal kita sudah menunggu dari pagi. Ketika minta pulang, dokter itu kelihatannya kesal sekali, dan memyuruh kakakku untuk menandatangani pernyataan bahwa jika terjadi apa-apa maka dokter tersebut takkan bertanggung jawab.

Saat akan pulang, suami kakakku pergi ke tempat pembayaran. Terkaget-kaget kakakku melihat jumlah biaya yang harus dibayar selama satu hari semalam, hampir satu juta duaratus ribu rupiah. Gak salah ini??? Dengan pelayanan macam ini, harus membayar sekian….o….sungguh terlalu!!!!!!!!

Aku lihat perinciannya,ada biaya RANAP, LAB, dll. Biaya paling mahal adalah biaya pengobatan. Padahal kakaku selama dirawat disana hanya di beri tablet Sanmol penurun panas. Yang lainnya aku gak ngerti. Ada Bioxon Inj 1 VIAL, Sporetik 6 CAP, RINGER LAKTAT WIDA 3 PLAb. Bagi kami orang awam terhadap medis cukup terheran-heran dengan kenyataan seperti itu. Kami merasa tertipu. Benarkah harga obat-obatan tersebut mahall??? Yang sangat kecewanya Dokter tak memberikan keterangan apa-apa mengenai penyakit kakakku.

Dan ternyata eh ternyata, menurut beberapa tetangga dan kakak ipar perempuanku yang lain, itu adalah penyakit kecapean yang biasa dialami oleh Ibu sehabis melahirkan. Mereka pernah mengalami gejala yang sama. Huh, mengapa dokter itu diam!

Pulang kerumah, Alhamdulillah….kakakku akhirnya membaik cepat. Hari kedua dan ketiga mulai bisa berjalan kembali.

Oh ...dokter….dokter….. !!! Dikau tuh jasanya luar biasa. Tapi tolong….kami sang pasien dan keluarga berhak tahu.

Ini pelajaran…jadinya terpikirkan olehku, iya ya gak semua dokter pintar-pintar….(maaf ya dokter jangan tersinggung). Sekolah dimana sih dia dulunya, berapa IPK nya??? Bisa jadi kan pas-pasan. Ijin praktek??? Jaman sekarang, segala hal bisa terjadi. Aduh..jadi suudzon…

Buat rekan-rekan dokter yang baca tulisan ini, mungkin dapat memberikan penjelasan mengenai obat-obatan diatas.

Saya titip pesan aja, tahukah Anda Dokter???

Sepertinya masyarakat kita sekarang lebih kritis, dan sepertinya sudah banyak yang kurang percaya dengan pelayanan RS. Karena mereka (dokter2 disana) suka mengada-ngada agar pasien dapat dirawat inap di RS tersebut sehingga ada pemasukan untuk RS tersebut.

Sungguh dilematis , disatu sisi….masyarakat kita tak semuanya mampu membiaya pengobatan mereka. Dan sisi lain…dokterpun sama mereka mencari nafkah dengan cara mengobati pasiennya seperti itu. Tapi saya percaya tak semua Dokter dan RS seperti itu (tapi sedikit deh kayaknya:D)…..mudah-mudahan tak seperti itu………..

Sabtu, Mei 26, 2007

Ternyata Masih Ada Juga!!.

Baru saja aku menemui kejadian yang memilukan dari seorang kakek-kakek yang sebelumnya kuceritakan. Ternyata alhamdulillah masih ada orang(supir) yang jujur di bandung. Dari penampilannya supir tadi terlihat memiliki tatoo ditangannya, yah tapi ku tak berikir yang macam2. Hey ...dia sedang mencari nafkah....

Setelah ku hampir sampai ke kampus. ku turun di pertigaan ganesha depan boromeus. Ku pakai angkot berwarna pink jurusan dago-sedang serang. Kubayar ongkos dengan selembar uang 20rb-an. Apa yang terjadi???eh supir angkot tadi memberkan kembaliannya sebesar 11 500 rupiah, langsung saja dia cabut pergi. dengan terheran2 kupandangi uang tadi mungkin aku salah menghitung, tapi ternyata tidak. kupikir kenapa supir tadi memberiku kembalian sebesar itu?? seharusnya kumendapatkan kembalian sebesar 16.500. karen ongkosku biasa berkisar 3000-3500. Hmmm berarti tdi aku bayar 8.500. Buset..mahal bgt. Tapi y sudahlah, kupikir mungkin kujarang beramal jadi dengan cara begitulah aku bersedekah. Mungkiiiiinnnnn.......

Kulanjutkan perjalananku menuju kampus, hampir saja kumemasuki gerbang, seseorang memanggilku dengan panggilan teteh. aih ternyata angkot tadi mengejarku untuk mengembalikan kekurangannya!! tak disangka, padahal jl ganesha bukanlah jalur angkot tadi.
Alhamdulilah...ternyata tangan bertato itu berbuat jujur. Semoga Allah merahmatimu dan memberimu kemudahan rizki ya bang supir angkott!!!

Teganya ........

Pagi tadi sekitar pukul 07.11, dalam perjalanan menuju kampus. Saya hendak menyebrang jalan, sebelum sempat kusebrangi jalan tersebut. Kuperhatikan ada seorang kakek-kakek yang memikul dagangannya. Kelihatannya ringan karena si kakek membawa sejumlah kerupuk yang banyak sehingga wadahnyapun besar pula. Tapi seringan-ringannya kerupuk jika jumlah nya sangat banyak tetap saja berat. Baru saja setengah menit kupandangi si kakek itu menyebrang, tiba-tiba sebuah motor menyinggung keranjang besar si kakek tersebut, berjatuhanlah kerupuk-kerupuk itu. Meskipun telah terbungkusi dengan plastik. Kerupuk itu ada yang sampai terobek plastiknya sehingga berhamburanlah isinya. Masya allah...................apa yang dipikiran pengendara motor tadi. Pas ditengah2 jalan raya yang padat lalu-lintasnya, kakek itu mencoba meraih sisa kerupuk yang masih bisa diselamatkan, namun syukurnya ada seorang laki-laki yang datang membantunya.

Ya ampunn..........teganya orang tadi, iya mungkin dia tergesa2 sehingga mengendarai sepeda mtornya dengan kencang, tapi tidak kah dia punya mata? Tak mungkin keranjang sebesar itu tak terihat dari kejauhan. Seharusnya dia lebih waspada. Jalan bukan hanya pemilik kendaraan beroda, tapi pejalan kaki pula.

Ada apa dengan masyarakat kita ???? Hmm sepertinya moral memang sudah sangat menurun, miris aku melihatnya......semoga kejadian itu tak terulang lagi. Mudah-mudahan!

Selasa, April 03, 2007

Kampus baruku......

Awal ku memasuki perkuliahan, ketika kupertamakali menginjakkan kampus cap gajah itu. Rasa-rasanya aku masih ga percaya benarkah aku kuliah disini?????? Hari-hari kuliah pertamaku berulang-ulang dan setiap hari kuperhatikan lingkungan kampus baruku, kulihat orang-orang yang hidup disana. Tak kusangka ku kan berada disini!!! tapi kenyataan nya begitu. Seneng rasanya lihat mahasiswa duduk di taman rindang itu dan berdiskusi membahas hal-hal yg menarik banginya.Wah asyik banget (bayanganku melihat akulah yang berada disana:D xixixi).

Namun setelah melewati satu bulan pertama, aku mulai merasakan itu, ya itu, merasakan bahwa benar lho aku mahasiswa ITB:d. Ada rasa takut menghinggapiku. Bisakah aku mengikuti smua itu, bisakah aku mengikuti materi kuliah itu dan menguasainya????? Aku harus berjuang keras untuk itu, karena budaya belajar disana sangatlah berbeda dengan kampus lamaku. Hmmm.......semapat pesimis juga(tapi dikit lho!!). Tapi aku sangat bersyukur banget kudipertemukan dengan teman-teman yang baik. Ada diantaranya alumni ITB juga dari jurusan Elektro pula yang tentunya pintar pula diantara kami semua tapi sangat baik baik baik sekali membantu kami yang tidak mengerti . Aduh teh Astri.......Allah akan membalas kebaikan teteh melebihi apa yang teteh berikan(Insyaallah.Amiinnn). Soalnya Aku sangat yakin sekali dengan hadist yang pernah kubaca, isinya berbicara mengenai saling tolong menolong. Allah akan meringankan beban orang yang telah meringankan beban oranng lain. Allah akan memberi kemudahan kepada orang yang telah memberi kemudahan pada orang lain. Mudah-mudahan ya teh.....teteh sekeluarga selalu diberkahi Allah SWT.....Amiiinnnnnnnnnnnn:).

Mengenai kampus baruku......

Walaupun tak begitu luas, cukup rindang, adem, yang unik di sepanjang jl. Ganesha banyak pohon yang dihinggapi burung Blekok. Ya itu namanya. Siapapun ga berani tuk berjalan disepanjang trotoar jalan itu. Karna apa? karna pasti kita dihujani oleh kotoran burung itu( Aih....jijik atuh). Dan disepanjang jalan itu, jalan dipenuhi oleh kotoran si Blekok itu. Bahkan kendaraan yang parkir dibawah pohon itupun tak luput kena sasarannya.
Ya... itulah ITB ...

Ada sedikit sayangnya........memang ITB kampusnya berada di lingkungan taman Hewan. Selain tercemari kotoran burung, ITB pun tercemari oleh kotoran nya Kuda. Karna ya itu karna lingkungan kampus kita (cyeee kampus kita niyeeee..berada di samping taman Hewan alias Kebun Binatang. Banyak kuda-kuda yang disewakan disana.Selain kotoran-kotoran itu, belum lagi sampah yang menumpuk disana.

Aduhhhh..jadi merusak keindahan dan kenyamanan. Rasa-rasanya tercoreng deh, sayang banget kampus yang terkenal se Indonesia itu dekat tempat pembuangan sampah yang lumayan kapasitasnya besar!!!!

Tolong donk bapak-bapak pejabat yang di Bandung, yang berwenang menangani hal itu. Sebaiknya tempat pembuangan sampah itu dipindahkan keberadaannya. Kampus "besar" seperti itu butuh lingkungan yang baik pula. Akan berpengaruh pada reputasinya. Katanya Bandung tempat menghasilkan orang-orang pintar tapi ko sayang kotanya sepertinya tak mencerminkan bahwa Bandung memiliki SDM untuk membuat lingkungannya lebih baik. Belum lagi jika ITB mengundang atau memang mengadakan acara bertaraf nasioanl atau Internasional yang pastinya akan dihadiri oleh orang-orang luar, masa daerahnya seperti itu??? takut-takunya nanti kurang dipercaya lagi. Saya sebagai orang Bandung (aslina lho) sedih melihat semua itu. Belum lagi 'ejekan' dari teman-temanku (terutama dreesyach si ganteng). Oalah.......

Ayooo dong make a change!!!!!!